13 / 100

B

images?q=tbn:ANd9GcRqbJh0V a NzNs7Cbq0L6I8yPkYhI8F2uN8A&usqp=CAU

Tidak banyak orang yang hiraukan bersama gender dokter yang menanganinya. Bagi pasien, dokter laki-laki atau perempuan serupa saja, yang mutlak mereka mempunyai rekam jejak yang baik dalam menangani pasiennya. Namun, sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa dokter perempuan ternyata lebih baik dalam menangani pasien ketimbang dokter laki-laki.

Ini berlaku untuk penanganan pasien lanjut usia. Riset Harvard University yang diterbitkan dalam JAMA internal medicine laksanakan sebuah penelitian terhadap efektifitas penyembuhan seorang dokter dilihat berasal dari perbedaan gender.

Hasilnya, dokter wanita dianggap lebih baik dalam menangani pasien yang berusia lanjut, kalau dibandingkan dokter laki-laki. Penelitian dikerjakan sepanjang tiga th. pada Januari 2011 sampai Desember 2014 terhadap 1,5 juta lebih pasien di AS berusia di atas 65 tahun.

Para pasien yang turut dalam penelitian mengidap beberapa kondisi umum, seperti kondisi umum, seperti pneumonia, Stroke atau serangan jantung. Hasilnya, pasien yang dirawat seorang dokter perempuan mempunyai risiko kematian relatif lebih kecil dibanding pasien yang kudu dirawat oleh dokter laki-laki. Kemungkinannya, 11,07% berbanding 11,49 persen dengan skripsi kedokteran yang banyak.

Pasien terhitung lebih berkemungkinan lagi masuk rumah sakit kala dirawat oleh dokter laki-laki ketimbang dokter perempuan. Perbandingannya, 15,02% untuk pasien yang dirawat oleh dokter wanita, dan 15,57% untuk pasien dokter laki-laki. Jika dokter laki-laki dianalogikan bisa bekerja seperti dokter perempuan, maka dapat tersedia sebanyak 32.000 jiwa bisa diselamatkan per tahunnya.

Kemungkinan dokter perempuan dianggap lebih baik berasal dari dokter laki-laki gara-gara lebih taat bersama pedoman klinis. Selain itu, penelitian pada mulanya menyatakan bahwa perempuan biasanya lebih efisien dalam berkomunikasi kepada pasien.

“Puluhan ribu jiwa bisa diselamatkan (oleh dokter perempuan), itu jumlah yang setara bersama angka kematian dalam kecelakaan kendaraan bermotor tiap tiap tahunnya,” kata Dr Ashish Jha, Profesor Kebijakan Kesehatan dan Direktur Harvard Institute Global Health. Dia menganalogikan hal selanjutnya serupa bersama penemuan sebuah obat baru yang efektif.

“Jika tersedia penyembuhan yang menurunkan angka kematian setengah poin, pasti dapat beroleh persetujuan FDA dan digunakan secara luas di rumah sakit.” Judith Hall, seorang profesor psikologi di Northeastern University, udah lama mempelajari keterampilan komunikasi dan sikap dokter berasal dari kedua style kelamin memberi tambahan penjelasannya.

Ia mengutarakan bukti bahwa dokter perempuan, condong lebih berpusat terhadap pasien, rajin mengobrol bersama pasien, dan mempunyai faktor-faktor psikologis serta emosional. “Walau begitu, dibutuhkan belajar lebih lanjut untuk menelitinya, gara-gara ini merupakan topik yang sangat riskan untuk dibahas. Dan perempuan mampir sebagai pemain baru untuk bidang ini,” ujarnya

By Darm

The Fastcoder Blog